<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793</id><updated>2012-01-22T14:35:45.117+08:00</updated><category term='serba-serbi'/><category term='rekreasi'/><category term='asal-usul'/><category term='forum'/><category term='budaya'/><category term='sosial'/><category term='demokrasi'/><title type='text'>Desa Candikusuma</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-773607660677986951</id><published>2009-04-29T10:37:00.002+08:00</published><updated>2009-04-29T10:58:55.099+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi'/><title type='text'>Kisruh Validitas DPT, Bupati Jembrana Prof. Winasa Ciptakan Formula Baru!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/Sfe-X0Xn5rI/AAAAAAAAAME/xHeZ_RXi_IQ/s1600-h/Touch+Screen.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/Sfe-X0Xn5rI/AAAAAAAAAME/xHeZ_RXi_IQ/s320/Touch+Screen.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329938000420267698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemilu untuk memilih wakil rakyat yang duduk di kursi DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, dan DPD telah dilangsungkan 9 April lalu. Namun demikian, dampak pasca pemilihan umum masih terasa hingga saat ini. Ribut-ribut  masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang konon menyebabkan jutaan warga negara kehilangan hak konstitusi untuk memilih wakil rakyat diklaim menjadi penyebab utama cacatnya pesta demokrasi kali ini. Bahkan, gabungan beberapa partai politik menyatakan bahwa Pemilu kali ini merupakan Pemilu terburuk dalam sejarah Indonesia. Sebuah cermin pesta demokrasi yang konon sangat jauh dari asas yang jujur, bermartabat, adil, dan demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya masalah, terutama validitas DPT yang berbuntut hilangnya hak konstitusi sedikitnya enam juta penduduk Indonesia. Seperti dilansir di beberapa media, sejumlah pimpinan parpol menyatakan dengan tegas bahwa telah terjadi pelanggaran hak konstitusi warga negara akibat hilangnya jutaan hak suara penduduk Indonesia pada pemilu kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisruh DPT juga dialami masyarakat di Bali, pun di Kabupaten Jembrana. Dan tampaknya, masalah validitas DPT yang senantiasa mewarnai perjalanan pesta demokrasi ini cukup membuat Bupati Jembrana, Prof. Dr. drg. I Gede Winasa gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J-Id&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, Pemkab Jembrana menerbitkan J-Id (Jembrana Identitas Diri). Di samping sebagai kartu tanda penduduk yang terintegrasi dengan kartu kesehatan, J-Id juga dinilai mampu menjaga hak-hak konstitusi masyarakat. “Dengan kartu ini, seluruh masyarakat Jembrana pasti bisa menggunakan hak konstitusinya sebagai warga negara,” tegas Bupati Winasa dalam sebuah kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, J-Id digunakan dalam Pemilihan Kepala Dusun (Pilkadus) yang digelar di Dusun Pasatan, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo pertengahan April lalu. Meski J-Id baru digunakan dalam pesta demokrasi berskala kecil, Prof. Winasa menjamin tidak akan terjadi penggunaan hak pilih ganda atau kisruh DPT dalam pemilihan, termasuk dalam pemilihan yang berskala lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penggunaan kartu ini juga menjamin tidak akan terjadi kecurangan dalam setiap Pemilu. Masyarakat tidak akan bisa menggunakan hak pilihnya lebih dari sekali, karena ketika mereka telah menjatuhkan pilihannya terhadap salah satu calon, otomatis gambar calon bersangkutan yang sebelum disentuh muncul di touch screen, setelah disentuh akan hilang. Kalau mereka tetap mencoba menyentuh untuk kedua kalinya, tetap tidak bisa dilakukan karena NIK (Nomor Induk Kependudukan) sudah diregistrasi di dalam sistem,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jaminan keamanan dan kerahasiaan tersebut, Prof. Winasa menilai kartu tersebut layak digunakan dalam setiap pesta demokrasi, bahkan dalam skala nasional sekalipun. “Saya pikir, sistem seperti ini bisa diterapkan bahkan pada skala nasional sekalipun. Namun sistem yang digunakan bukan lagi sistem NIK, tapi dengan sistem sidik jari. Dengan sistem sidik jari, masalah keamanan data dan peluang terjadinya pemilih ganda bisa ditekan bahkan sampai dengan angka nol,” lanjut Prof. Winasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum diluncurkan, Kartu J-Id tersebut juga telah dikonfirmasikan ke MenPAN (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara). Sementara itu, anggota KPU Provinsi Bali, Dewa Raka Sandi, yang ditemui di sela-sela proses pemungutan suara Pilkadus Pasatan, mengapresiasi positif sistem pemilihan ini. Menurut Sandi, bukan hal mustahil jika sistem ini diterapkan secara nasional dengan catatan sudah terbukti mumpuni dan tahan terhadap serangan-serangan hacker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan sistem ini, terbukti tingkat pelanggaran terhadap DPT bisa ditekan, waktu yang digunakan untuk pemungutan dan penghitungan suara cukup singkat, dan biaya yang lebih murah. Bukan tidak mungkin sistem ini akan diterapkan secara nasional, dengan catatatan sistem ini sudah tahan dari serangan para hacker. Kalau simulasinya sudah berhasil, ya, tinggal tunggu waktu saja," demikian Raka Sandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah formula baru yang ingin ditawarkan Bupati Jembrana Prop. Winasa. Jika memungkinkan, Prof. Winasa berharap agar dalam kartu tersebut juga dapat digunakan saat pelaksanaan Pilbup Jembrana mendatang, untuk menjaga hak konstitusi masyarakatnya. Untuk itu, saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dan konsultasi ke KPU Jembrana, KPU Bali, dan KPU Pusat. Selain itu, Bupati Winasa juga tengah melakukan koordinasi dengan KPU penyanding seperti KPU Jawa Timur dan KPU Nusa Tenggara Barat untuk berkoordinasi masalah kemungkinan adanya "impor pemilih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kartu ini dapat digunakan pada Pilbup Jembrana tahun depan, saya pikir kisruh seputar DPT tidak akan terjadi lagi. Selain itu, penggunaan kartu ini juga akan menimbulkan efisiensi biaya hingga 75%. Bayangkan jika seluruh Indonesia bisa menggunakannya, berapa milyar dana Pemilu yang dapat ditekan? Untuk itu, kami segera berkoordinasi dengan KPU setempat dan KPU Provinsi penyanding untuk menjajaki kemungkinan tersebut, termasuk kemungkinan-kemungkinan kecurangan yang ada,” demikian Prof. Winasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Disunting dari &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;abloid Independen News&lt;/span&gt;, Jembrana&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-773607660677986951?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/773607660677986951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/kisruh-validitas-dpt-bupati-jembrana.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/773607660677986951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/773607660677986951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/kisruh-validitas-dpt-bupati-jembrana.html' title='Kisruh Validitas DPT, Bupati Jembrana Prof. Winasa Ciptakan Formula Baru!'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/Sfe-X0Xn5rI/AAAAAAAAAME/xHeZ_RXi_IQ/s72-c/Touch+Screen.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-2030504377857188471</id><published>2009-04-18T15:51:00.001+08:00</published><updated>2009-04-18T15:53:56.664+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serba-serbi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rekreasi'/><title type='text'>Manggang Ikan, Yuuuuk...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/SemG29_6o1I/AAAAAAAAAJc/sUFIH2xfoas/s1600-h/Manggang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 319px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/SemG29_6o1I/AAAAAAAAAJc/sUFIH2xfoas/s400/Manggang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325936313256026962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang terjadi di pelosok-pelosok desa pinggiran Bali, sihir industri pariwisata Bali yang terpusat di Badung, Denpasar dan Ubud (Gianyar), telah menyedot gairah para generasi muda untuk beramai-ramai meninggalkan kampung halaman. Di hari-hari biasa, hampir sulit menemukan anak-anak muda berada di desa, kecuali mereka yang masih bersekolah di SMP atau SMA. Mereka semua menjadi urban ke pusat industri pariwasata tersebut, entah bekerja di hotel, pertokoan, restoran, industri garmen, perusahan taksi, pun tidak sedikit yang bekerja di Denpasar “hanya” menjadi tukang cuci sepeda motor di pinggiran jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya di saat-saat hari raya tiba, mereka para anak muda itu, kembali pulang. Mereka berkumpul lagi dengan teman-teman sepermainannya di kampung, main bola di bawah pohon kelapa, nongkrong di pos kamling atau di bale banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal yang telah menjadi tradisi di kalangan anak muda urban itu saat pulang kampung adalah “ngolah” alias masak dan makan bareng. Kegiatan ini bisa dilakukan di rumah salah satu dari mereka, bisa di pos kamling, bisa juga di bale banjar. Pokoknya yang penting kumpul, makan bareng dan selanjutnya begadang sampai pagi hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini, acara “ngolah” yang paling populer di Jembrana adalah manggang ikan laut. Ini mungkin disebabkan karena kepraktisannya. Manggang ikan laut memang jauh lebih sederhana daripada masak ayam, bebek, atau yang lainnya. Maka, ini pulalah saat-saat yang paling ditunggu oleh para nelayan di Desa Candikusuma. Karena pada umumnya, untuk mendapatkan jenis ikan panggangan segar di Jembrana pusatnya adalah perkampungan nelayan di Pantai Candikusuma. Di saat-saat liburan hari raya itu, dalam sehari para nelayan dan para pengepul ikan di Candikusuma mampu menjual puluhan kilo ikan tongkol, krapu, ikan layang, akan putihan, ikan tribang dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, kalau bicara soal ikan segar untuk dipanggang, Pantai Candikusuma pilihan yang paling layak! Manggang ikan, yuuuukkk....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-2030504377857188471?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/2030504377857188471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/manggang-ikan-yuuuuk.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/2030504377857188471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/2030504377857188471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/manggang-ikan-yuuuuk.html' title='Manggang Ikan, Yuuuuk...'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/SemG29_6o1I/AAAAAAAAAJc/sUFIH2xfoas/s72-c/Manggang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-5620586044559770869</id><published>2009-04-18T15:16:00.010+08:00</published><updated>2009-04-18T15:50:23.098+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='forum'/><title type='text'>Tiada Kata Lain: Mari Kita Maju!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/SemEyp_uO7I/AAAAAAAAAJU/MUO6_FGDoV4/s1600-h/Pak+Kades.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 260px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/SemEyp_uO7I/AAAAAAAAAJU/MUO6_FGDoV4/s320/Pak+Kades.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325934040143772594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selalu dengan bahagia akan saya katakan, bahwa saya bangga menjadi orang Jembrana. Sebagai warga masyarakat, saya bangga menjadi bagian dari proses besar peradaban bangsa dan kemanusiaan dalam wilayah kecil yang bernama Kabupaten Jembrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak alasan kenapa saya bisa berbangga dengan rasa bahagia. Sebagai warga masyarakat di Kabupaten Jembrana, jujur saya katakan bahwa segala sesuatu mengenai hajat hidup terasa lebih mudah untuk dipenuhi. Artinya, bahwa sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat, sudah tentulah kita memang mesti senantiasa bekerja keras untuk memenuhi segala tuntutan hidup. Tanpa bekerja keras, mustahil hidup dan kehidupan dapat kita lalui dengan wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah kemudian sangat terasa, bagaimana segala kerja keras terasa dapat kita lakukan dengan lebih mudah di Jembrana. Karena, seperti kita sudah ketahui dan rasakan bersama, bahwa warga masyarakat tidaklah dibiarkan berusaha sendiri oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jembrana. Pemerintah daerah di Kabupaten Jembrana, tidak melepaskan begitu saja persoalan nasib kepada warga masyarakatnya. Dengan berbagai program inovatif yang digagas Bupati Jembrana Prof. Dr. Drg. I Gede Winasa selama kepemimpinannya ini, masyarakat Jembrana menjadi selalu punya optimisme yang tinggi untuk membangun dirinya, membangun keluarganya, membangun lingkungannya seiring dengan perkembangan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih begitu banyak warga masyarakat di daerah lain di seluruh Indonesia yang senantiasa dihantui rasa cemas akan kehidupannya esok hari. Bayangkan saja, dalam kondisi krisis multidimensional yang hingga hari ini masih saja melanda kita sebagai sebuah bangsa, warga masyarakat masih pula dituntut biaya tinggi untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Sementara itu di Jembrana, biaya sekolah sudah hampir satu dasa warsa dibebaskan oleh pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah lain, sebagian besar warga masyarakat masih selalu cemas bahkan tidak berani berobat ke dokter bila kena penyakit. Semua itu dikarenakan biaya berobat yang sering tak terjangkau. Begitu banyak warga masyarakat di negeri kita ini merasa putus asa dengan berbagai penyakit yang dideritanya. Tetapi di Jembrana, kecemasan itu tidaklah lagi perlu ada. Setidaknya, untuk pertolongan pertama bagi warga yang sedang sakit, warga masyarakat di Jembrana telah difasilitasi oleh pemerintah daerah dengan pelayanan JKJ (Jaminan Kesehatan Jembrana), berupa biaya pengobatan gratis. Dengan program ini, setidaknya warga masyarakat yang tidak memiliki asuransi kesehatan seperti misalnya Askes bagi PNS, tidaklah menjadi persoalan di Jembrana. Cukup dengan membawa Kartu JKJ, setiap warga masyarakat Jembrana yang sedang sakit akan mendapatkan pelayanan kesehatan serta pengobatan yang standar dan proporsional dari rumah sakit maupun dokter praktek suasta di seluruh wilayah kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal di atas adalah merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan modern saat ini. Pendidikan dan kesehatan, adalah dua hal yang mutlak harus terpenuhi agar warga masyarakat dapat mengembangkan dirinya. Dan dua hal ini pula, hanyalah sebagian kecil dari berbagai program pembangunan masyarakat yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Jembrana di bawah kepemimpinan Bupati Winasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, apakah untuk selanjutnya kita cukup hanya dengan berbangga? Tentu saja tidak! Bahwa setelah kebutuhan-kebutuhan mendasar kita dibantu oleh pemerintah daerah, tentulah kita juga mesti lebih memberdayakan diri untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita, baik sebagai individu, sebagai satuan keluarga, sebagai masyarakat. Masyarakat Jembrana tidak boleh terbuai dan manja oleh segala kemudahan yang telah didapatkan. Justru segala kemudahan ini patut kita jadikan pemicu untuk terus dan terus berusaha, bekerja keras sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang kita miliki, agar berbagai kemudahan yang telah kita terima itu tidak menjadi mubazir pada akhirya. Segala kemudahan yang telah kita terima haruslah bisa kita jadikan modal untuk semakin meningkatkan kualitas hidup kita sebagai warga bangsa! Mari kita maju bersama!&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis: I Wayan Bagia Yasa, Perbekel Candikusuma)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-5620586044559770869?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/5620586044559770869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/tiada-kata-lain-mari-kita-maju.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/5620586044559770869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/5620586044559770869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/tiada-kata-lain-mari-kita-maju.html' title='Tiada Kata Lain: Mari Kita Maju!'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/SemEyp_uO7I/AAAAAAAAAJU/MUO6_FGDoV4/s72-c/Pak+Kades.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-4574527613049973023</id><published>2009-04-18T14:58:00.004+08:00</published><updated>2009-04-18T15:12:21.949+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Desa Paling Demokratis!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/Sel9HcabaAI/AAAAAAAAAI8/upg5ye3Rcrc/s1600-h/Demokratis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 247px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/Sel9HcabaAI/AAAAAAAAAI8/upg5ye3Rcrc/s400/Demokratis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325925601181919234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ingin belajar berdemokrasi dengan sungguh-sungguh? Datanglah ke Desa Candikusuma!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu dasa warsa lebih wacana demokrasi menjadi hingar-bingar di negeri tercinta Indonesia. Dimulai dengan momentum reformasi 1998, setiap orang di Indonesia menjadi fasih menyebut “demokrasi”. Lebih-lebih para elit politik, dalam setiap kesempatan mereka selalu berkata: “Ini demi demokrasi!” “Ini demi menyelamatkan demokrasi!” Tetapi apakah semua itu benar-benar terbukti? Apakah perilaku para elit politik sudah bernar-benar demokratis? Tak ada yang bisa menjawab dengan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekali lagi, cobalah menengok ke sebuah desa di wilayah pinggiran Bali Barat, Kecamatan Melaya, Jembrana. Jika kita mau jujur melihat, desa yang bernama Candikusuma ini sungguh telah memberi kita pelajaran bahwa demokrasi justru lebih dihormati oleh masyarakat di pedesaan, oleh masyarakat yang tidak pernah belajar politik seperti halnya para politikus yang ada di partai-partai politik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Indonesia, penduduk Desa Candikusuma adalah warga masyarakat yang heterogen. Secara garis besar, masyarakat Desa Candikusuma terdiri dari tiga komunitas pemeluk keyakinan berbeda, yaitu Hindu, Islam dan Kristen. Tetapi yang mayoritas hanyalah dua, yakni Hindu dan Islam. Sementara umat Kristen di Candikusuma tidak lebih dari 1 (satu) persen dari seluruh penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian membuat desa ini terasa istimewa dalam konteks demokrasi, bahwa ternyata kepala desa yang kini memegang tampuk pimpinan adalah seorang Kristiani alias beragama Kristen. Kepala desa ini terpilih secara demokratis melalui pemilihan langsung oleh warga masyarakat Desa Candikusuma yang mayoritas Hindu dan Islam, tahun 2007 yang lalu. Tepatnya, Pak Kades yang bernama lengkap I Wayan Bagia Yasa ini dilantik menjadi Kepala Desa Candikusuma pada 20 Agustus 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sungguh, kita mesti belajar dari fenomena politik di Desa Candikusuma. Bahwa warga masyarakat bawah di desa yang penghuninya mayoritas petani dan nelayan ini, tidaklah pernah mengedepankan sentimen agama, tidaklah pernah mempersoalkan isu SARA dalam perilaku maupun kehidupan sosialnya sehari-hari. Beda benar dengan mereka yang sering mengaku elit di kancah politik nasional!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-4574527613049973023?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/4574527613049973023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/desa-paling-demokratis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/4574527613049973023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/4574527613049973023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/desa-paling-demokratis.html' title='Desa Paling Demokratis!'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_V1plfVBwdZE/Sel9HcabaAI/AAAAAAAAAI8/upg5ye3Rcrc/s72-c/Demokratis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-7450064494234789250</id><published>2009-04-18T14:24:00.002+08:00</published><updated>2009-04-18T14:56:31.693+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asal-usul'/><title type='text'>Gambaran Umum Desa Candikusuma</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Potensi Alam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, wilayah Desa Candikusuma adalah merupakan kawasan perbukitan, dataran rendah serta lautan, dengan areal tanah yang sangat subur. Pada dataran rendah sangat potensial untuk persawahan teknis/irigasi teknis dengan sumber air yang berasal dari Bendungan Palasari, Desa Ekasari (kurang lebih tujuh kilometer kea rah utara dari Desa Candikusuma). Sedangkan di bagian perbukitan, oleh warga masyarakat sudah dikembangkan menjadi tegalan/perkebunan dengan tanaman kelapa, pisang, coklat, berbagai jenis buah-buahan tropis, vanili dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi keairan Desa Candikusuma dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Rasa air umumnya tawar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penggalian air permukaan berupa air lambat sedang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Permukaan tanah mengandung air tanah besar dangkal dengan kedalaman antara 4 sampai 17 meter.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada sebagian besar wilayah, kandungan air tanah adalah berskala sedang dengan debit 5 liter/detik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Keadaan geografis menurut letak di atas permukaan laut (dpl):&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tinggi tempat dari permukaan adalah 7 s/d  15  mdl.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemiringan tanah antara 20 – 40 drajat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Luas Desa Candikusuma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Luas Desa Candikusuma seluruhnya adalah  680.00 Ha., dengan rincian menurut kegunaanya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perumahan dan Pekarangan seluas 197,70 Ha&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sawah seluas 5,00 Ha.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkebunan seluas 452,59 Ha.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bangunan Umum 6,51   Ha&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lain-lain 17,20 Ha.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batas Wilayah Desa Candikusuma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Timur: Desa Tuwed&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barat: Desa Nusasari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Utara: Desa Warnasari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selatan: Samudera Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-7450064494234789250?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/7450064494234789250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/gambaran-umum-desa-candikusuma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/7450064494234789250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/7450064494234789250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/gambaran-umum-desa-candikusuma.html' title='Gambaran Umum Desa Candikusuma'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-3378849771842152082</id><published>2009-04-18T14:21:00.003+08:00</published><updated>2009-04-18T14:52:22.627+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asal-usul'/><title type='text'>Perkembangan Pemerintahan Desa Candikusuma</title><content type='html'>Berikut ini adalah mereka yang tercatat pernah dan sedang memimpin pemerintahan sebagai kepala desa di Desa Candikusuma:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sa’ad  - tahun 1945 s/d 1960&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paijo - tahun 1960 s/d 1969&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdurahman - tahun 1969 s/d 1975&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paijo -  tahun 1975 s/d 1982&lt;/li&gt;&lt;li&gt;A. A.Bagus Sukardi (pejabat sementara) - tahun 1982 s/d 1983&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Nyoman Kandra - tahun 1983 s/d 1991&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Drs. A.A.Gde Ekajaya - tahun 1991 s/d 1999&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Drs. I Gede Sujana (pejabat sementara) - tanggal 25 Mei 1999 s/d tgl 21 Agust 1999.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Ketut Mertha - tanggal 21 Agustus 1999 s/d 21 Agust 2007&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Wayan Bagia Yasa - tanggal 21 Agustus 2007 sampai sekarang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, wilayah Desa Candikusuma terbagi menjadi 3 dusun/banjar yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dusun/Banjar Candikusuma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dusun/Banjar Moding&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dusun/Banjar Tetelan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan dinamika sistem pemerintahan atas perubahan paradigma yang berkembang di masyarakat sebagai proses demokratisasi dan transparansi pada semua urusan pemerintahan desa, serta dalam upaya untuk lebih memudahkan urusan pemerintahan desa, maka Desa Candikusuma yang terdiri dari tiga dusun/banjar mengalami perubahan pemekaran pada tahun 1998, yakni, Banjar Candikusuma dimekarkan menjadi Banjar Candikusuma dan Banjar Tirtakusuma, serta  Banjar Moding dimekarkan menjadi Banjar Moding dan Banjar Moding Kaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemekaran banjar tersebut, maka Desa Candikusuma sekarang terdiri dari lima banjar yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Banjar  Candikusuma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjar  Moding&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjar  Tetelan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjar  Tirtakusuma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banjar  Moding Kaja.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Demikian riwayat singkat sejarah dan perkembangan Desa Candikusuma.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-3378849771842152082?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/3378849771842152082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/perkembangan-pemerintahan-desa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/3378849771842152082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/3378849771842152082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/perkembangan-pemerintahan-desa.html' title='Perkembangan Pemerintahan Desa Candikusuma'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2526956768640066793.post-1311830028395423839</id><published>2009-04-16T16:16:00.004+08:00</published><updated>2009-04-18T15:35:28.403+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asal-usul'/><title type='text'>Asal-Usul Desa Candikusuma</title><content type='html'>Desa Candikusuma, adalah sebuah desa yang terdiri dari wilayah pantai dan perkebunan, terletak di pesisir selatan Bali Barat. Desa ini menjadi bagian dari Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembentukan wilayah yang bernama Candikusuma ini, dapat dipelajari dari beberapa peninggalan sejarah dan kebudayaan, maupun proses alamiah yang mendukung terbentuknya peradaban sosial dari dulu hingga sekarang di wilayah ini. Beberapa peninggalan sejarah dan kebudayaan tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sebuah candi bersegi tiga yang disebut Tugu Candikusuma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebuah sumur suci bernama Sumur Bulus&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paras Pihpih (batu padas terbentuk pipih dari proses alamiah) yang merupakan tebing sungai terbesar di Desa Candikusuma, yakni sungai Danghyang Gede atau Sungai Sanghyang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebuah pura peninggalan sejarah bernama Pura Dangkahyangan Indra Kusuma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebuah sumber air mengalir di tepi pantai yang diberi nama Tukad Danghyang Cerik&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sementara itu, untuk mengetahui kapan dibentuk dan siapa yang membentuk Desa Candikusuma, dapat dipelajari dari:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Buku/Lontar No. 1705 VI.b, yang tersimpan di Gedung Kertiya Singaraja, tentang perjalanan seorang pendeta/guru besar agama Hindu, Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh yang sempat singgah di Candikusuma dalam perjalanan menuju Gelgel, Klungkung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Arsip pembukaan perkebunan kelapa, kopi dan coklat di Candikusuma oleh seorang tokoh Belanda bernama Dumay sekitar tahun 1897 dengan Hak Erf Pacht.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dari peninggalan-peninggalan sejarah dan kebudayaan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Desa Candikusuma terbentuk melalui sejarah yang terkonsep secara sosial budaya, di mana sejak kelahirannya desa ini sudah memiliki jejak-jejak kehidupan manusia yang terbentuk dalam sebuah komunitas kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjalanan Pedanda Sakti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat, dikisahkan perjalanan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh dari Blambangan (Jawa Timur) menuju Gelgel (Klungkung-Bali), diiringi istrinya yakni Danghyang Istri Sakti yang sedang hamil tua serta putrinya yang bernama Ida Ayu Swabawa. Mereka sempat singgah di Candikusuma, mendarat di tanjung pasir berhutan lebat. Kehadiran mereka diterima oleh dua orang warga bernama Pan Jebah dan Pan Bulus. Ketika baru mendarat di pantai, Ida Ayu Swabawa menyatakan rasa hausnya dan meminta air minum. Ida Pedanda Sakti lalu memuja dan mohon air tawar kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Saat itulah muncul air yang bersumber dari dalam tanah dan terus mengalir membentuk sungai kecil. Aliran air tersebut kemudian diberi nama Tukad Danghyang Cerik (sekarang lebih populer dengan nama Tukad Sanghyang Cerik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama persinggahannya itu, Pedanda Sakti Wawu Rawuh juga sempat memberikan tuntunan agama (Hindu) kepada warga setempat, baru kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Gelgel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena Danghyang Istri dalam keadaan hamil tua, maka beliau tidak turut ke Gelgel dan memutuskan untuk menetap di Candikusuma. Pedanda Sakti meninggalkan istrinya dengan sebuah keris dan sebuah sumber mata air untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Lokasi tempat tinggal istrinya itu diberi nama Griya Indraloka, sedangkan sumber air yang ditinggalkannya diberi nama Sumur Bulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya diiringi oleh putrinya, Pedanda Sakti Wawu Rawuh berangkat menyusuri pantai ke arah timur menuju Gelgel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa lama, oleh karena tidak kuat dengan angin laut yang cukup besar dan bisingnya deruan ombak, Danghyang Istri memilih pindah tinggal ke arah barat laut dari Indraloka, di tepi Sungai Danghyang Gede di lokasi Pura Dangkahyangan Indra Kusuma. Di tempat inilah Danghyang Istri moksa dengan meninggalkan seorang putra bernama Ida Bagus Bajra yang kemudian juga pralina di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perkebunan Dumay&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1897, seorang tokoh Belanda (VOC) membuka perkebunan kelapa, kopi dan coklat di kawasan barat Desa Candikusuma. Tetapi pembangunan kawasan perkebunan yang luasnya mencapai 100 hektar ini sering mendapat gangguan binatang buas dari darat (hutan) berupa harimau dan wadak (banteng hutan). Sementara gangguan dan serangan dari laut juga tidak kalah besarnya, yakni serangan buaya yang datang dari Tukad Danghyangh Cerik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai upaya untuk mengusir gangguan binatang buas tersebut telah dilakukan oleh Dumay bersama para buruh perkebunannya, termasuk menggunakan senjata api. Tetapi gangguan binatang buas bahkan semakin mengganas dan memakan banyak korban para pekerja perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini kemudian membuat Dumay mengambil keputusan untuk mengundang tokoh dari Puri Gede Jembrana (pusat pemerintahan Kerajaan Jembrana saat itu), untuk diajak bersama-sama melakukan ritual (persembahyangan) di lokasi bekas Geria Indraloka. Adapun tokoh puri yang datang adalah Anak Agung Gede Kangsa beserta putranya Anak Agung Putu Brata. Atas permintaan Dumay, persembahyangan (meditasi) dilakukan bersama empat orang, termasuk putra dari Dumay yang bernama Beber. Dalam persemedian berempat itulah mereka melihat sebilah keris bersinar muncul dari dalam tanah. Dijelaskan oleh keempatnya, bahwa keris yang muncul tersebut bermata tiga. Maka selanjutnya, di tempat munculnya keris itulah oleh Dumay didirikan sebual pal bersegitiga dengan nama Tugu Candikusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pembangunan Tugu Candikusuma itu pula, kawasan Candikusuma diberi nama Pesedahan Candikusuma dengan ketentuan administratif sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Pesedahan Candikusuma dengan batas:&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Timur : Sungai Tukadaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selatan : Lautan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barat : Hutan bagian barat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Utara : Hutan bagian utara.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Resort kehutanan juga disebut Kehutanan Candikusuma.&lt;br /&gt;Pelabuhannya juga disebut Pelabuhan Candikusuma.&lt;br /&gt;Banjar (kawasan pemukiman) yang tua juga disebut Banjar Candikusuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemerintahan Desa Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pada tahun 1945 di mana Sa’ad sebagai pejabat pertama Kepala Desa, yang wilayahnya mencakup Sangyang Cerik dan Kepah, maka ditetapkan nama desa menjadi Desa Sanghyang Cerik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan pemerintahan selanjutnya, tanggal 16 Maret 1976, keluarlah Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jembrana, Nomor: Pem/II.a/20/1976, yang menentukan batas-batas wilayah untuk memudahkan administrasi desa. Sejak saat itu pula nama Desa Sanghyang Cerik dikembalikan ke nama semula yaitu Desa Candikusuma. Hal ini dilakukan dengan mengingat catatan sejarah yang sudah banyak dikenal oleh umum tentang Desa Candikusuma. Di samping itu, tidak pula dapat dikesampingkan bahwa Kawasan Candikusuma mempunyai andil besar di dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia, karena di daerah inilah tempat pendaratan para Pemuda Pejuang Kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan RI, tak akan terlupakan pertempuran di kawasan Kenari (Bali Barat) yang mengakibatkan gugurnya pahlawan bangsa Saestuadi. Di samping Kawasan Kenari, pertempuran antara Pemuda Pejuang dengan Tentara gajah Merah (Sekutu) juga terjadi di kawasan Banjar Moding/Pangkung Belatung (salah satu banjar di bagian utara Desa Candikusuma), yang mengakibatkan gugurnya 7 (tujuh) Pemuda Pejuang. Dengan hal ini pula, Desa Candikusuma dinyatakan sebagai salah satu pusat pertahanan untuk Bali Barat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2526956768640066793-1311830028395423839?l=desacandikusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/feeds/1311830028395423839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/asal-usul-desa-candikusuma.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/1311830028395423839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2526956768640066793/posts/default/1311830028395423839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://desacandikusuma.blogspot.com/2009/04/asal-usul-desa-candikusuma.html' title='Asal-Usul Desa Candikusuma'/><author><name>desa candikusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15764949985041525509</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
